Berita

Harga Cabai Rawit Mahal, Penjual Makanan di Tasikmalaya Lakukan Penyesuaian

TASIKMALAYA, OnNewsOne.com – Mahalnya harga cabai rawit kini mulai berdampak pada sejumlah penjual makanan di Tasikmalaya. Pedagang bakso, seblak, pecel, dan lauk pauk tradisional harus berinovasi agar tetap dapat menyediakan masakan pedas tanpa membebani pelanggan dengan kenaikan harga.

Aeni Suharyanti, seorang pedagang cabai rawit yang rutin memasok ke sejumlah rumah makan di Kota Tasikmalaya, mengaku meski harga cabai rawit melonjak hingga Rp150.000 per kilogram, ia belum mengalami kesulitan dalam mendapatkan pasokan.

Cabai rawit yang ia jual dipilih secara khusus dan dibersihkan sebelum dijual. Dalam sehari, Aeni mampu menjual rata-rata 100 kilogram cabai rawit yang didatangkan dari Jawa Tengah.

“Cabai rawit memang sedang mahal, tapi saya masih bisa mendapatkannya dari pemasok di Jawa Tengah secara online. Sebagian besar pembeli saya adalah pelanggan tetap dari beberapa rumah makan di Tasikmalaya,” ujar Aeni, Sabtu (18/1/2025).

Cabai yang sudah matang (ranum), menurut Aeni, juga diolah kembali dengan cara dicuci, direbus, dan dijemur hingga kering. Cabai kering ini dijual dengan harga Rp40.000 per kilogram dan banyak digunakan untuk membuat minyak cabai (cili oil) serta sambal campuran untuk masakan seperti bakso dan makanan lainnya.

Para pedagang makanan di Tasikmalaya juga mengakui melakukan penyesuaian dalam penggunaan cabai untuk menghemat biaya produksi. Siti Nurmaya, pedagang bakso keliling di Kampung Gunung Salikur, Kelurahan Sukanagara, Kecamatan Purbaratu, mengurangi komposisi cabai rawit dalam sambalnya dan menggantinya dengan cabai kering.

“Sekarang saya pakai 80% cabai rawit dan 20% cabai kering untuk membuat sambal. Biasanya saya hanya pakai cabai rawit sepenuhnya,” ungkap Siti.

Berbeda dengan Siti, Dedeh, penjual lauk pauk matang masih di Kampung Gunung Salikur, memilih mengganti cabai rawit dengan cabai merah keriting untuk memasak masakannya.

“Sejak harga cabai rawit mahal, saya pakai cabai merah keriting sebagai pengganti. Biasanya, semua masakan saya menggunakan cabai rawit,” ujar Dedeh.

Mahalnya cabai rawit menjadi tantangan bagi banyak pedagang makanan di Tasikmalaya. Namun, inovasi dan penyesuaian dalam penggunaan bahan menjadi solusi untuk tetap memenuhi kebutuhan pelanggan tanpa menaikkan harga secara signifikan. (HAD)