TASIKMALAYA, OnNewsOne.com – Program makan siang bergizi gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo melalui Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Tasikmalaya menuai sorotan. Dalam pelaksanaannya pada Senin (6/1/2025) lalu, sebanyak 1.056 siswa SMPN 2 Kota Tasikmalaya menerima paket makanan bergizi yang terdiri dari daging ayam, sayur, tempe, dan buah jeruk.
Program ini melibatkan berbagai pihak, termasuk Pemerintah Kota Tasikmalaya, Kodim 0612 Tasikmalaya, Polres Tasikmalaya Kota, dan DPRD. Tidak hanya SMP, program ini juga menjangkau siswa dari tingkat SD, SMA, TK, hingga PAUD. Hingga saat ini, total penerima manfaat mencapai 2.999 siswa.
Meski program ini mendapatkan apresiasi, pengamat hukum dan sosial Kota Tasikmalaya, Ir. Taufiq Rahman, S.H., M.H., CPCLE, memberikan kritik konstruktif. Ia menyoroti pentingnya pemerataan akses program bagi semua anak, termasuk mereka yang tidak bersekolah, terutama di pelosok.
“Saya akui program ini bagus untuk mengatasi stunting pada pelajar. Namun, bagaimana dengan anak-anak yang tidak bersekolah? Mereka juga memiliki hak yang sama untuk mendapatkan asupan bergizi. Jika mereka terabaikan, hal ini berpotensi memperburuk jurang kemiskinan,” ujarnya pada Minggu (19/1/2025).
Taufiq mengingatkan bahwa Pasal 27 ayat (1) dan Pasal 28D ayat (1) UUD 1945 menjamin kesetaraan hak warga negara. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak juga mewajibkan negara menghormati hak anak tanpa diskriminasi. Hal ini diperkuat oleh Konvensi Hak Anak PBB yang menegaskan akses yang sama bagi semua anak.
“Program ini harus dikembangkan agar mencakup seluruh anak Indonesia, baik yang bersekolah maupun tidak. MBG adalah hak semua anak dan seharusnya menjadi cerminan pemerintahan yang adil tanpa diskriminasi,” tegas Taufiq.
Ia juga menyoroti kelemahan dalam implementasi program di lapangan. Menurutnya, ketentuan program harus lebih fleksibel dan adaptif dengan kondisi sosial setempat agar tujuan utamanya tercapai.
“Pemerintah harus segera menyusun kebijakan yang memungkinkan anak-anak di pelosok atau dari keluarga miskin yang tidak bersekolah ikut merasakan manfaat program ini. Dengan begitu, tujuan besar untuk meningkatkan gizi generasi muda benar-benar tercapai,” tutupnya.
Program MBG diharapkan terus berkembang dan menjadi langkah nyata untuk menciptakan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berdaya saing. Namun, pemerataan akses menjadi kunci agar tidak ada anak yang tertinggal dalam upaya besar ini. (HAD)









