Berita

Mengapa Libur Panjang Selalu Macet? Ini Analisis Pakar Sosiologi

NASIONAL, OnNewsOne.com – Kemacetan selalu menjadi pemandangan yang tak terhindarkan saat musim libur panjang tiba. Fenomena ini bukan sekadar akibat meningkatnya jumlah kendaraan di jalan, tetapi juga mencerminkan dinamika sosial yang lebih kompleks.

Menurut Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Sunyoto Usman, MA, kemacetan saat liburan dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari kebutuhan sosial hingga budaya masyarakat yang menjadikan momen liburan sebagai waktu berkumpul bersama keluarga.

“Meskipun tidak ada orang yang ingin terjebak dalam kemacetan, ada kebutuhan tertentu yang mendorong banyak orang tetap melakukan perjalanan,” ujar Prof. Sunyoto, Selasa (28/1/2025).

Ia menjelaskan bahwa keputusan untuk bepergian tidak hanya didasarkan pada kehendak individu, tetapi juga dipengaruhi oleh norma sosial yang mengutamakan silaturahmi dan rekreasi.

“Tujuan perjalanan harus dilihat dulu. Mobilitas orang itu didorong oleh banyak faktor, bisa karena ingin bersilaturahmi dengan keluarga, berlibur, atau sekadar mengikuti tren tempat wisata yang sedang populer,” tambahnya.

Menurut Prof. Sunyoto, budaya kolektif masyarakat juga memainkan peran besar dalam kemacetan saat liburan. Banyak keluarga memanfaatkan hari libur panjang untuk berkumpul, baik dengan mudik ke kampung halaman maupun berkunjung ke destinasi wisata favorit.

“Jika destinasi yang dituju juga menjadi pilihan banyak orang, maka kepadatan kendaraan tidak bisa dihindari. Misalnya, jika semua orang ingin berlibur ke Bandung, Lembang, atau Puncak secara bersamaan, maka kemacetan adalah konsekuensi yang harus diterima,” jelasnya.

Meski demikian, ia menilai bahwa banyak orang yang sebenarnya telah mempersiapkan diri untuk menghadapi macet, karena bepergian selama liburan sudah menjadi bagian dari rutinitas sosial.

“Orang mungkin sudah tahu akan macet, tapi mereka tetap berangkat karena ada kebutuhan sosial yang lebih besar,” tambahnya.

Selain faktor sosial, Prof. Sunyoto menyoroti tata kelola ruang dan manajemen lalu lintas yang masih belum optimal sebagai penyebab utama kemacetan.

“Orang Indonesia bukannya menikmati kemacetan, tetapi ini lebih kepada persoalan tata ruang dan pengaturan lalu lintas yang belum maksimal. Jika ditanya, pasti tidak ada yang suka macet. Jadi, ini bukan masalah individu, melainkan bagaimana sistem lalu lintas dikelola,” tegasnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa perilaku masyarakat dalam menghadapi kemacetan bisa mencerminkan perbedaan pola hidup berdasarkan status sosial.

“Kalau tujuan perjalanan adalah untuk rekreasi, itu lebih banyak dilakukan oleh kelompok menengah ke atas, karena mereka memiliki cadangan keuangan yang bisa digunakan untuk liburan,” jelasnya.

Prof. Sunyoto menegaskan bahwa menyalahkan individu atas kemacetan bukanlah solusi yang tepat.

“Kemacetan bukan sekadar urusan pribadi, melainkan masalah pengelolaan lalu lintas. Jadi, yang harus dibenahi adalah cara pengaturan lalu lintasnya, bukan menyalahkan masyarakat yang bepergian,” pungkasnya.

Fenomena kemacetan saat libur panjang memang tak bisa dihindari, namun dengan perencanaan tata ruang yang lebih baik serta pengelolaan lalu lintas yang optimal, kemacetan bisa diminimalisir agar perjalanan masyarakat tetap nyaman dan efisien.